Cerita Ersanta

Ada satu titik dimana saya benar-benar lupa dengan umur saya. Itu membuat saya harus menghitungnya dengan 10 jari saya. Dari 1992 ke 2013. Ternyata 21. Saya masih ragu apa benar 21, dan mengulanginya sekali lagi. Ternyata benar sudah 21.
Sebenarnya bukan ragu apakah saya sudah berumur 21, tapi seakan bertanya, ” 21 ? Sudah menjadi apa dirimu? Umurmu sudah dewasa, sudah dewasakah dirimu?”
Umur 21. Masih sering melempar pakaian di lantai. Melempar sepatu dan kaos kaki sembarangan. Meletakkan barang seenaknya.
Umur 21. Meninggalkan piring kotor di meja belajar. Meninggalkan bungkus makanan di lantai. Membiarkan tempat tidur berantakan.
Umur 21 masih muda? Benar
Umur 21 umur dewasa? Benar
Umur 21 bertingkah seperti anak-anak?
Sama sekali tidak bisa dibenarkan.
Mungkin 3 tahun lagi saya sudah berkeluarga. Atau bahkan sudah memiliki anak.
3 tahun. Bukan waktu yang lama.
3 tahun berkuliah kita belajar banyak hal tentang idealisme.
Dan 3 tahun setelah itu mungkin kita harus belajar mendewasakan diri. Benar-benar dewasa sehingga bisa menjadi panutan anak dan istri.
Akan sangat tidak pantas bila anak kita nanti melihat kita melempar pakaian di lantai. Itulah mengapa saya merasa pendewasaan dan sikap untuk menjadi panutan anak istri harus mulai dipelajari dan dibiasakan. 3 tahun bisa cukup, bisa kurang untuk melatih kebiasaan bersikap.
Itu masih dalam lingkungan yang kecil. Lingkungan keluarga. Begitu keluar rumah, dunia berputar. Masalah sosial, masalah negara, masalah dunia berada di hadapan semua orang.
Umur 21. Sudah menjadi apa kamu di dunia ini? Sudah berkontribusi untuk negaramu apa kamu? Kegiatanmu yang mana yang mengurangi masalah sosial?
Pertanyaan yang membuat malu dan menyayat cukup dalam. Apalagi bila melihat orang-orang berumur 21 di sekitarmu sudah memiliki pencapaian yang cukup tinggi untuk tingkat kedewasaan dan kualitas diri.
Sukses di berbagai bidang, dan siap menjadi tokoh-tokoh yang menginspirasi orang lain.
Malu bukan tak ada gunanya. Malu harus diarahkan ke arah yang mencambuk diri kearah yang lebih baik.
Tenang-tenang dan bersikap seenaknya sudah bukan cerminan umur 21. Itu bukan bagian dari menikmati atau mensyukuri hidup.
Teruslah tidak puas untuk menjadi sosok yang dibanggakan anak cucumu. Nikamatilah hidup dengan membuat hidup orang lain nikmat.
TechArt Porsche 911 Carrera 4S (by Revistadelmotor)
Maha suci Allah dan segala yang diciptakannya
minum susu dengan gelas susu di rumah makan Raminten. full story -> http://marfianersanta.tk/2013/01/jogja-one-day-is-never-enough/
Subuhe telat, jodohmu minggat !”
@handoiiy
Kata Abi, pas pada nginep rame-rame di kosan didi, itu jadi “mantra” mujarab buat ngebangunin sholat subuh :D
(via ariadnemnp)
Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang. Menemukan wanita yang sepadan untuknya dan tidak lagi merasakan sakit di hati, kecuali jika kemudian ia yang mematahkannya sendiri.









